Siapa filsuf favoritmu? Mengapa?


Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengar nama ini atau tidak, jadi, Tuan dan Puan sekalian, saya persembahkan Anda; Emil Cioran!


Bagi sebagian besar orang, Cioran adalah sosok yang terlalu suram untuk hidup. Sepanjang hidup dan setelah kematiannya, ia telah menyandang hampir semua titel bertendensi negatif dalam kultur filsafat: pesimis, skeptis, nihilis, antinatalis, Anda bisa menamainya. Namanya disandangkan dengan eksistensialisme negatif, karya-karyanya seringkali masuk dalam daftar esai yang dihindari karena tidak bisa memberikan pencerahan sama sekali. Ia adalah kesuraman itu sendiri.

Tema-tema yang ditulisnya biasanya berputar pada eksistensialisme, keterasingan, absurditas, kebosanan, kesia-siaan, tirani dalam sejarah, vulgaritas perubahan, kesadaran sebagai penderitaan, dan pusatnya adalah ide tentang bunuh diri.

Dalam salah satu esai karyanya, On the Heights of Despair, Anda bisa melihat seberapa besar rasa skeptismenya pada kehidupan. Maksud saya, biarkan saya membuka halaman acak.

I don’t understand why we must do things in this world, why we must have friends and aspirations, hopes and dreams. Wouldn’t it be better to retreat to a faraway corner of the world, where all its noise and complications would be heard no more? Then we could renounce culture and ambitions; we would lose everything and gain nothing; for what is there to be gained from this world?


Translasi bebas: Saya tidak mengerti mengapa kita harus melakukan sesuatu di dunia ini, mengapa kita harus memiliki teman dan aspirasi-aspirasi, harapan serta mimpi-mimpi. Bukankah lebih baik jika kita mundur ke sudut dunia yang jauh, di mana semua kebisingan dan kerumitannya tidak akan terdengar lagi? Kemudian kita bisa meninggalkan budaya dan ambisi; kita akan kehilangan segalanya dan tidak mendapatkan apa-apa; sebab apa yang bisa diperoleh dari dunia ini?

Em, siapa yang menyakitimu?🥺

Secara pribadi, saya menganggapnya sebagai filsuf yang anti-filsafat, sebab tesis-tesisnya memang tidak mengikuti pakem-pakem filsafat pada umumnya. Namun, saya berani menjamin bahwa tulisannya sangat indah, seperti syair-syair yang biasanya digunakan untuk melukiskan keindahan; bedanya, ia menulis tentang kengerian eksistensi. Ia menulis dengan darahnya dan mengubah jeritannya menjadi sekumpulan puisi dengan rima-rima; seorang musisi yang menggambarkan getaran kiamat yang akan datang, seorang suicidal yang begitu bergairah dengan kehidupan.

Cioran betul-betul menggunakan esai filosofis dan kata-kata mutiara untuk mengungkapkan doktrinnya yang sangat pesimistis.

Tidakkah penggambaran ini menunjukkan betapa besar saya menyukainya?

Oh, ini belum menunjukkan mengapa saya menyukainya. Alasannya, ia adalah orang yang suicidal dan terobsesi pada bunuh diri, tetapi hidup sampai usia tua dan mati secara alami. Ia seperti pembangkang yang melawan tradisi, sebab ia hidup pada masa di mana filsuf kontemporer banyak mati bunuh diri.

Namun, Cioran menjelaskan alasannya dengan cukup baik dengan mengatakan, "Only optimists commit suicide, optimists who no longer succeed at being optimists. The others, having no reason to live, why would they have any to die?"

Sederhananya, ia menyebut bahwa hanya orang-orang optimis yang melakukan bunuh diri. Sedangkan orang pesimis bahkan tidak punya alasan untuk hidup, apalagi alasan untuk mati.

Jika hidup ini tidak memiliki makna, berarti tidak ada jaminan bahwa makna itu tiba-tiba akan datang seiring dengan datangnya kematian. Cioran menganggap bahwa nihilnya makna hidup justru menjadi alasan mengapa kita harus tetap hidup.

Saya juga suka idenya tentang menulis sebagai alat untuk menunda mati. Bagi Cioran, menulis adalah satu-satunya pelariannya dari depresi, sampai titik di mana ia tidak akan bisa menulis tanpa depresi. Dia terus menulis dan menulis, terlalu sibuk mengeluarkan pemikiran negatifnya sampai lupa untuk mewujudkannya dalam realita.


"I’ve never been able to write otherwise than in the midst of the depression (cafard) brought about by my nights of insomnia. For seven years I could barely sleep. I need this depression, and even today before I sit down to write I play a disk of (sad) Gypsy music from Hungary."


Soal pemikirannya yang pesimis dan penderitaan yang dihadapinya (Cioran remaja sudah mengalami insomnia, itu tahun 1935), ia pernah berkata pada ibunya bahwa ia sudah tidak bisa menahannya (dalam artian ia ingin mengakhiri hidupnya). Namun, Elvira (ibunya) menjawab bahwa jika ia tahu Cioran tidak bahagia, ia pasti akan menggugurkannya.

Dari sana, Cioran berpikir bahwa eksistensinya juga bukan salah orang tuanya. Mereka sama-sama mengalami keterlemparan, tidak tahu apa yang menanti mereka di dunia.

Namun, dalam On the Heights of Despair, Cioran sempat menyatakan, "Aku ingin bebas … bebas seperti bayi yang digugurkan," yang menyiratkan bahwa ia menyayangkan tindakan ibunya yang tidak menggugurkannya.

Jadi, yang dilakukan Cioran selanjutnya adalah, "I'm simply an accident. Why take it all so seriously?"

Tidak peduli.

Mau menderita? Ya sudah, mau bagaimana lagi. Yang penting tidak bunuh diri😃

Ia hanya hidup hanya untuk menulis sampai mati.

Betapa kerennya pria ini.

Itu saja.

Anda harus membaca karya Cioran, serius. Dengan catatan Anda harus dalam keadaan yang cukup stabil dan pemikiran terbuka untuk menerima kenegatifan. Tulisannya benar-benar cantik dan saya mengucapkan ini dengan keseriusan paling tulus.

Terimakasih
Salam Wawasan.

ABOUT ME.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Filsafat yang dapat mengubah pemikiran seseorang dalam kehidupan